Keywords : Cerita Islami, Cerita Inspiratif, Cerita Penuh Makna,Hidayah

Assalamu'allaikum Wr Wb

hidayah.png

Cerita Islami

Judul : Hidayah Untuk Kriminal Ulung
Penulis : Martoloyo

Ada seorang kriminal ulung yang sudah banyak sekali melakukan Perampokan, dan Pencurian.
"Martoloyo" itulah namanya.
Martoloyo memiliki wajah yang tampan dan tubuh yang atletis.
Martoloyo merupakan Kriminal yang sangat licin dan tangguh, sehingga sulit di tangkap oleh aparat kepolisian.
Dalam menjalankan aksinya ia sangat berhati hati sekali, tak heran jika ia selalu berhasil dalam setiap aksinya.

Dari hasil kejahatanya selain ia gunakan untuk diri sendiri, ia juga sering kali memberikanya kepada orang lain semisal pengemis, gelandangan, anak jalanan, anak yatim piatu dan lain sebagainya.
Martoloyo tak pernah memberi tahu mereka darimana ia mendapatkan uang itu, karena jika mereka tahu mungkin mereka akan menolaknya.

Suatu ketika saat Martoloyo ingin beraksi, ia bertemu dengan seorang Polisi.
Sontak Martoloyo lari secepat mungkin untuk menghindari polisi itu.
Martoloyo berlari membabi buta dan terjebak di gang buntu.
Sementara Polisi itu sudah ada di belakang Martoloyo sambil menodongkan Pistol.

"Dooooor !!!!" suara Pistol yang mengeluarkan peluru dan mengarah ke kaki kanan Martoloyo.

Martoloyo langsung tersungkur sambil menahan rasa sakit dari panasnya timah yang bersarang di betis kanan kakinya.

Singkat cerita Martoloyo akhirnya tertangkap dan di jebloskan ke dalam penjara.
Di dalam sel, Martoloyo hanya tinggal berdua bersama seorang tahanan bernama Martopuro yang sudah lebih dulu masuk ke dalam BUI.
Selama di sel Martopuro sering mengajarkan ilmu Agama kepada Martoloyo, seperti membaca Al-Qur'an, Sholat, Puasa dan lain lain.
Dengan senang hati Martoloyo serius menyimaknya dan mempelajarinya.

"Kau sangat paham dengan Agama kawanku, lalu kejahatan apa yang kau lakukan sehingga kau masuk ke dalam penjara?" tanya Martoloyo pada Martopuro
"Aku di fitnah" jawab singkat Martopuro
"Fitnah seperti apa itu ?" Martoloyo kembali bertanya
"Maaf kawanku, aku tidak bisa memberitahumu, biarlah ini menjadi pelajaran hidup untuku" jawab Martopuro

Waktu terus berlalu, akhrinya setelah menunggu sekian lama, tibalah waktunya Martoloyo untuk bebas.
Namun tidak bagi Martopuro, ia masih harus menjalani hukumanya 10 tahun lagi.
Bahagia dan Sedih menghiasi perasaan Martoloyo,Bahagia karena ia bebas, sedih karena harus berpisah dengan Martopuro.

Martoloyo berjanji pada Martopuro kalau ia akan sesering mungkin menengoknya.
Perubahan 360 derajat terjadi pada Martoloyo, kini ia sudah melupakan masa lalunya.
Sudah tidak ada lagi Martoloyo yang ahli Merampok adanya Martoloyo yang ahli Ibadah kepada Allah Swt.
Selepas keluar dari penjara Martoloyo bekerja sebagai penjual Gorengan dari uang yang di beri oleh Martopuro dan ia tinggal di rumah kontrakan.
Martoloyo memang sudah tidak punya keluarga dan hidup sebatangkara.

Martoloyo pun mengunjungi sahabatnya Martopuro, memenuhi janjinya waktu itu.
Namun setelah sampai di LP Martoloyo sangat terkejut, karena menurut penuturan anggota yang bertugas tidak ada tahanan yang bernama Martopuro.
Martoloyo berusaha menjelaskan pada aparat yang bertugas, bahwa Martopuro adalah tahanan yang tinggal satu sel bersamanya.
Namun petugas kambali menepis penjelasan itu, petugas berkata bahwa selama di sel Martoloyo hanya tinggal sendirian, karena ia di tempatkan di sel khusus.
Dalam bingungnya Martoloyo terus Beristigfar.

Martoloyo pun meminta pada petugas untuk menghantarkanya ke sel tempat ia dulu.
Memang benar, tidak ada siapa siapa di sel itu, padahal seharusnya Martopuro masih tinggal di sel.
Martoloyo tak henti hentinya beristigfar dan bertasbih, ia merasa heran dengan yang ia alami saat ini.

Martoloyo memiliki sebuah firasat, dan untuk menjawab firasatnya itu ia harus bertemu dengan Polisi yang waktu itu menangkapanya.
Sampailah Martoloyo di kantor polisi dimana dulu ia menjalani pemeriksaan.
Langsung saja Martoloyo menanyakan keberadaan Polisi tersebut.
Namun lagi lagi keanehan terjadi, menurut kepala Polisi di kantor tersebut Martoloyo tidak di tangkap, melainkan ia menyerahkan diri, dan tidak ada Polisi yang seperti Martoloyo cari.
Kembali Martoloyo menjelaskan, jika ia menyerahkan diri, untuk apa ada bekas luka tembak di kakinya.
Kepala Polisi itu menepis penjelasan Martoloyo, ia mengatakan bahwa luka di kaki Martoloyo bukan luka dari bekas tembakan, melainkan dari goresan benda tajam, seperti pisau atau benta tajam lainya.

Tubuh Martoloyo merinding, ia benar benar tidak percaya dengan yang sudah ia alami.
Sambil mengucapkan salam, Martoloyo meninggalkan Kantor Polisi itu dan pulang kerumah.
Setibanya di rumah ia langsung merenung, dan mengutarakan apa yang ingin ia katakan, segala keluh kesahnya kepada Allah Swt.

"Ya Allah sesungguhnya hamba benar benar tidak percaya dengan apa yang telah hamba alami, namun jika itu semua adalah bukti kasih sayangmu kepada hamba dan Hidayah yang Engkau berikan kepada hamba, maka hamba sangat bersyukur, Engkau telah menyelamatkan hamba dari jalan yang salah, memang tidak ada yang tidak mungkin jika Engkau telah berkehendak, segala puji hanya untukmu ya Allah, semoga engkau selalu membimbing hamba untuk terus berada di jalanmu, dan semoga Engkau menyelamatkan hamba dari pedihnya siksa kubur dan siksa Neraka Amiin" Sambil menangis Martoloyo mengusapkan kedua telapak tanganya ke wajahnya

Selesai......

Tidak ada orang yang benar benar jahat di dunia ini
Mungkin ada suatu tekanan dan lemahnya Iman yang membuat seseorang bertindak Kriminal
Sebagai hamba Allah sudah selayaknya kita mendekatkan diri pada-Nya dan memohon atas segala permohonan pada-Nya

Mohon maaf jika ceritanya kurang menarik, karena saya bukan penulis kelas dunia

Akhir Kata Saya Ucapkan Terima Kasih
Wassalamu'allaikum Wr Wb